Wah, dari judulnya aja udah gak beres nih.. hehehe. “Kenapa orang-orang pintar selama akademi jarang sukses di masyarakat ???”.
Paling pertama penjelasan dulu, definisi sukses disini ialah orang yang berhasil dalam pandangan masyarakat, yaitu orang yang kaya dan mempunyai banyak uang serta berhasil dalam masyarakat.
Kemarin, tepatnya pas hari Rabu 13 Mei 2009, ada acara Entrepreneurship yang diberi nama “Entrepreneurism” yang mengundang pembicara-pembicara yang menurut saya sangat menarik. Mulai dari Andri Maadsa yang merupakan guru saya sendiri, Raja Factory Outlet di Bandung, Owner Ichi Bento, serta yang paling menarik yaitu Helmi Yahya. Mas Helmi sejak kecil merupakan orang yang bisa disebut sangat pintar dalam akademik. SMA, beliau juara umum se-SMA Negeri 1 Palembang, di STAN (Sekolah Tinggi Akutansi Negara), beliau mendapatkan predikat lulusan terbaik. Bahkan saat mengambil S-2 di Amerika, beliau lulus dengan sangat cepat dan mendapatkan IP 3,67. Luar biasa sekali bukan.
Nah, dalam acara-acara seminar entrepreneurship, biasanya para pembicara mengatakan bahwa buat apa yang namanya sekolah tinggi-tinggi. Kali ini hal itu dibantah oleh para pembicara yang saya sebutkan diatas tadi.
Dari mas Helmi Yahya, ada fakta menarik yang diketahui, yaitu “Yang DO lebih kaya dari yang lulus, dan yang lulus seadanya lebih kaya dari yang lulus top ten”. Itu buat di STAN loh pada masa lalu, kalo sekarang mungkin sudah berbeda.
Orang-orang pintar pada saat di akademi, setelah lulus, biasanya hanya menjadi Dosen atau peneliti atau ilmuwan. Dan tahulah kita bahwa gaji tersebut tidaklah bisa dibanggakan. Dalam salah satu tulisan mas Romi di romisatriawahono.net bahwa gaji professor di Indonesia hanya dihargai sama dengan helpdesk dalam perusahaan IT. Itu membuktikan bahwa sangat jarang orang-orang pintar di akademik itu berhasil.
Kesalahan-kesalahan orang pintar :
- Tidak percaya orang lain. Dalam mengerjakan sesuatu mereka tidak mau percaya orang lain. Contoh, seorang yang pintar dalam membuat Web, maka kemungkinan dia akan membuat Web tersebut sendiri, mulai dari tahap design, pemprograman, sampai selesai menjadi sebuah Web. Dan mengerjakan sebuah proyek tersebut sendiri akan membutuhkan waktu yang lama dan tenaga yang banyak. Bandingkan kalau dia mengerjakan dalam sebuah tim.
- Cenderung sombong. Mereka cenderung tidak mau menerima saran dari orang lain karena menganggap orang yang memberi saran lebih rendah dari mereka. Sehingga mereka sering dikucilkan dan mereka sendiri merasa tidak membutuhkan orang lain. Fakta bahwa orang sombong sendiri akan dibenci oleh orang sombong lainnya.
- Terlalu lama menghitung. Dalam mengerjakan sesuatu mereka terlalu perhitungan, bahkan sampai hal-hal kecil pun dihitung. Sehingga apabila ada tender proyek, mereka sering kalah sama orang-orang yang kurang pintar berhitung, karena orang yang kurang pintar berhitung biasanya menggunkana insting mereka.